Hasil UN SMP SS 2016 Perlu Dievaluasi

Fokus Tawon Tuesday, 14/06/2016



Nilai hasil UN tahun pelajaran 2015-2016 yang diraih pelajar SMP SS tidak hanya mendapat perhatian dari walimurid dan Housing and Education Commit­te (HEC), tetapi juga secara khusus dan serius mendapat perhatian dari General Manager GMP Mr. Lim Poh Ching.

Pak Lim yang turut hadir dalam             pe­le­pasan dan perpisahan 170 siswa ke­las IX, di Aula SMP SS (14 Juni 2016), tampak terkejut mengetahui ha­sil UN yang dinilai terlampau ren­dah. Terutama pada mata pelajaran Matematika dan IPA.

Pada UN tahun ini, nilai tertinggi mata pelajaran Matematika di angka 95 dan terendah 15. Nilai rata-rata Ma­tematika 44,12. Sedangkan pada ma­ta pelajaran IPA raihan nilai ter­tinggi 87,5 dan terendah 25. Nilai rata-rata pelajaran IPA yakni 53,74.

Sedangkan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia nilai tertinggi 98 dan terendah 48 dengan nilai rata-rata 80,69. Sementara mata pelajaran Bahasa Inggris nilai tertinggi 96 dan te­rendah 26 dengan nilai rata-rata 56,09.

Paparan nilai yang disorot mela­lui layar proyektor ini segera menda­patkan respons dari pak Lim. Di ha­dapan para tamu undangan, ia me­ngemukakan jika siswa pada UN me­meroleh nilai rendah, maka dikhawa­tirkan sulit bersaing di jenjang pendi­dikan lebih tinggi.

Saat memasuki bangku SMA dan perguruan tinggi tingkat persaingan dengan pelajar lain akan semakin ketat. Maka sudah semestinya target dan perolehan nilai harus lebih bagus.

Sebagai respons atas rendahnya raihan nilai UN, pak Lim meminta pihak sekolah dan HEC segera mela­ku­kan evaluasi dan memerbaiki situa­si. Manajamen PT GMP akan mendu­kung penuh peningkatan kualitas pen­didikan di Gunung Madu.

“Sekolah kita harus menjadi the best. Minimal di Lampung Tengah,” katanya.

Perhatian khusus dari pak Lim men­dapat respons cepat dari pihak sekolah. Sehari setelah pelepasan sis­wa, seluruh guru bersigegas mem­buat analisis hasil UN. Analisis ini kemudian akan menjadi bahan acuan un­tuk memerbaiki kualitas anak didik agar jauh lebih siap menghadapi uji­an di tahun mendatang.

Kepala SMP SS, Sri Ismiyatun, S.Pd, menyatakan ada dua faktor pe­nyebab rendahnya raihan nilai UN anak-anak didiknya, yakni faktor eks­ternal dan internal. Faktor ekster­nal tentu lebih dipengaruhi corak ling­kungan siswa berasal, yaitu ling­kungan keluarga.

Ada kecenderungan tren saat ini orangtua kurang memberikan kontrol dan perhatian lebih kepada anaknya. Pemberian kesempatan waktu ber­main lebih banyak dari waktu belajar dan kebebasan anak mengakses gad­get tanpa pendampingan secara khusus dari orangtua.

“Porsi hubungan emosional anak dan orangtua ini jauh lebih banyak terjalin di rumah. Jika dipersentase, 70 persen orang tua punya kesem­pat­an mendidik anak. Sementara para guru di sekolah hanya memiliki ke­sempatan 30 persen,” terangnya.

Maka tidak bisa tak orangtua ha­rus meningkatkan kontrol terhadap naknya. Seperti pemberian gadget akan bernilai positif jika dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran. Se­lain itu penggunaan gadget juga ha­rus di bawah kontrol orangtua, terma­suk peran aktif orangtua mengecek riwayat laman situs-situs web yang diakses oleh pengguna. Sebab tanpa peran aktif orangtua, pembebasan peng­gunaan gadget akan menjadi ben­cana.

Begitu pula pantauan waktu ber­main, sudah semestinya para orang­tua membuat peraturan jam malam. Anak-anak harus segera kembali ke rumah maksimal pukul 21.00 WIB.

“Lewat jam malam orangtua ha­rus mencari keberadaan anaknya,” katanya.

Sedangkan faktor internal, bu Is­miyatun menyadari jika masih banyak kekurangan di level sumber daya manusia (SDM) SMP SS. Termasuk pro­gram dan metode belajar. Maka pekerjaan rumah ke depan adalah memerbaiki SDM, program dan me­tode belajar.

“Saya mengamati anak-anak ba­nyak mengalami kejenuhan saat me­ngikuti kegiatan belajar mengajar. Bi­sa jadi ini disebabkan metode belajar yang terlalu konvensional,” tandas­nya.

Memerbaiki Metode Belajar

Sebagai langkah serius mening­katkan kualitas pendidikan, pihak SMP SS akan memerbaiki metode be­la­jar lebih progresif. Pembelajaran di luar ruang kelas bisa jadi akan men­jadi kombinasi agar para peserta didik tidak mengalami kejenuhan.

Selain itu, di awal penerimaan siswa pi­hak sekolah juga melaksana­kan tes. Tes dilakukan bukan sebagai stan­dard seorang siswa diterima atau ti­dak, melainkan untuk acuan penge­lompokkan kelas.

Langkah ketiga, penyaringan ala­miah akan berlangsung lebih ketat saat siswa memasuki jenjang kelas VIII.

Saat itu jika siswa terbukti tidak memenuhi kriteria untuk dapat naik kelas (tidak memenuhi KKM, tidak berakhlak baik, jumlah alpha dan ijin melebihi ketentuan) maka pilihan ting­gal kelas akan menjadi pilihan lo­gis. Bisa jadi ke depan akan banyak siswa tinggal kelas.

“Tidak akan ada lagi toleransi. Ini pi­lihan untuk meningkatkan kualitas anak didik,” pungkasnya.

Komentar senada disampaikan gu­ru Bimbingan Konseling SMP SS, Pradana Vidyawati, S.Psi. Menurut­nya, ada kecenderungan para siswa meng­anggap remeh UN setelah pe­me­rintah mengeluarkan kebijakan me­lalui Permendikbud No 44/2014 ten­tang UN. Mulai 2016, persentase kelu­lusan siswa bakal berimbang an­tara UN dan US. Yaitu dengan angka nilai perbandingan 50:50. Hal ini mem­buat para peserta UN terlihat santai meng­hadapi ujian pa­mungkas itu.

Meski hasil UN bukan menjadi acu­an kelulusan, ibu Pradana me­nam­bahkan, tetapi raihan nilai UN akan menjadi patokan kualitas inteli­gensi setiap siswa.

Hasil UN juga da­pat menjadi ukur­an kemampuan se­tiap siswa me­lanjutkan ke jenjang pen­didikan lebih tinggi. l dew

 

INFORMASI TERBARU

Semoga Para Haji GMP Kembali dengan Selamat
Warta Tawon Monday, 12/09/2016
Kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS)
Anak Ge - Em Wednesday, 31/08/2016
Olahraga Memupuk Kebersamaan Antarkaryawan
Warta Tawon Wednesday, 31/08/2016
Panen Raya Tebu di Tubaba
Fokus Tawon Tuesday, 30/08/2016
Lomba Tumpeng HUT RI
Dinamika Tawon Saturday, 20/08/2016
199 Pelajar Peroleh Beasiswa KGM
Anak Ge - Em Saturday, 20/08/2016