[«] Saling Berbagi di Temu Lapang IKAGI 2009

Jumlah Peserta membengkak, bahkan banyak yang mendaftar disaat-saat terakhir
Kegiatan dilaksanakan selama dua hari. Hari pertama (24 Juli) diadakan di Graha Parahita, Hotel Marcopolo, Bandarlampung dengan acara welcome party dan
pemberian penghargaan Ikagi kepada pabrik gula berprestasi pada tahun giling 2008. Hari berikutnya (25 Juli) temu lapang di areal perkebunan dan pabrik
gula dilanjutkan diskusi di GSG Perumahan II PT GMP.
Dengan temu lapang ini diharap-kan terjalin tali silaturahmi dan terbukanya wawasan semua insan pergulaan. Termasuk saling bertukar pengalaman dan
pemikiran baru untuk meningkatkan hasil, mulai dari perkebunan tebu, pengelolaan hingga produksi gula serta pemasaran. Hal ini sesuai tema,
yaitu “Saling Berbagi Demi Peningkatan Produkstivitas Gula Nasional”.
Animo para pelaku industri pergulaan nasional memang luar biasa. Peserta yang awalnya ditarget 200 orang, membengkak menjadi 350. Panitia pun
terpaksa harus membatasi jumlah, karena akan terkait dengan terbatasnya fasilitas akomodasi, transportasi, dan temu lapang kita. Itu pun masih
banyak yang langsung datang ke Site Gunung Madu, tanpa tercatat sebagai peserta resmi.
Demi mengikuti acara ini peserta rela dikenai biaya partisipasi Rp300 ribu setiap peserta. Menurut Ketua Umum Ikagi Bambang Priyono Basuki, ini
relatif murah jika dilihat dari manfaatnya dan diterapkan di masing-masing lingkungan kerja. “Kami sangat berharap seluruh anggota Ikagi menghadiri
kegiatan ini,” ujarnya saat welcome party.
Pembukaan yang dimulai pukul 19.00 WIB berlangsung lancar. Hadir dalam acara tersebut Deputi IV Menteri Negara BUMN Dr. Ir. Agus Pakpahan,
Ketua Umum Ikagi Ir. Bambang Priyono Basuki, M.M. beserta jajaran pengurus teras, para direksi dan komisaris PTPN, dan para pimpinan pabrik gula
di Lampung. Di antaranya General Manager PT GMP H.M Jimmy Mahshun, Direktur Utama PTPN VII Ir. Andi Punoko, M.M., Site Director Sugar Group
Companies (SGC) Ir. Fauzi Toha. Para Kadep, Kadiv, dan staf PT GMP juga nampak membaur dengan para peserta.

Pak Koko sedang mempresentasikan tentang sejarah dan perkembangan PT GMP
Karena itu, kalangan industri gula harus mampu membuat suatu revolusi pikiran. Artinya, bagaimana melahirkan suatu energi baru agar nantinya mengalami kemajuan. Jadi, perusahaan dan pengusaha gula harus memiliki inovasi guna meningkatkan hasil produksi.
“Yang juga tak boleh diabaikan, perusahaan atau pabrik gula juga harus bersatu baik dalam produksi maupun pemasaran gula agar bisa sukses,” kata mantan Dirjen Perkebunan ini.
Sementara Pak Bambang Priyono Basuki mengatakan PT Gunung Madu sebagai tuan rumah sudah membuka diri, dengan membeberkan langkah-langkah yang ditempuh sehingga sukses dalam meningkatkan hasil produksi gula. Karena itu, anggota Ikagi yang datang ke Gunung Madu akan rugi jika tidak menerapkan pengalaman dari perusahaan yang menjadi pioner industri gula di Indonesia, khususnya luar Jawa. Meski tidak sama dengan PT GMP, tapi hasilnya diharapkan mendekati.
“Peserta Ikagi adalah orang-orang pilihan yang dapat menyerap pengetahuan dengan cepat. Salah satunya melihat atau mencontoh keberhasilan PT GMP yang mampu mencapai rendemen 9,2 persen. Itu salah satu keberhasilan yang dapat ditiru oleh insan Ikagi,” terangnya.
“Kita jangan malu mencontoh keberhasilan PT GMP, yang terbukti mumpuni meningkatkan produksi gula,” ujar Pak Bambang yang disambut tepuk tangan meriah peserta.
General Manager PT GMP H.M. Jimmy Mahshun dalam sambutannya mengatakan PT GMP telah menyiapkan diri untuk memberikan informasi-informasi yang mungkin bermanfaat bagi peserta. Tetapi, PT GMP juga akan sangat gembira menerima masukan-masukan dari peserta.
Pak Jimmy juga menjelaskan PT GMP pada musim tebang giling 2009 ini menargetkan produksi gula 220 ribu ton, TSH 7,75, TCH 83,00, dan rendemen 9,34%. Hingga saat itu (24 Juli) produksi gula sudah mencapai 103.943 ton, rendemen 9,24%, TSH 7,85, TCH 84,89..
Mengenai tema kegiatan “Saling Bebagi untuk Meningkatkan Produktivitas Gula Nasional”, Pak Jimmy berpendapat sangat tepat.

Penyerahan IKAGI Award
Acara Welcome Party Temu Lapang Ikagi 2009 ini ditutup dengan penyerahan 26 Gold Award kepada perusahaan gula yang mampu meningkatkan rendemennya pada tahun 2008 lalu.
Perusahaan gula yang menerima penghargaan ini, antara lain PG Jombang Baru, PG Maritjan, PG Modjopanggoong, PG Ngadirejo, PT Sweet Indo Lampung, PG Trangkil, PG Redjosarie, PG Asembagoes, PG Subang, PG Cintamanis, PG Padjarakan, PG Djatiroto, PG Candi Baru, PG. Kebon Agung dan PT Indo Lampung Perkasa.
“Penghargaan Ikagi Award ini, diberikan pada insan Ikagi yang meningkat rendemennya pada tahun 2008 lalu. Harapan kita, pada tahun 2009 ini, makin banyak lagi industri gula yang mendapatkan gold award tersebut,” ujar Bambang.
Penyerahaan gold award tersebut masing-masing dilakukan Dr. Ir. Agus Pakpahan, Ketua Ikagi Bambang Priyono Basuki, Direktur Utama PTPN VII Andi Punoko dan General Manager PT GMP H.M. Jimmy Mahshun.
"Memper" kalo Rendemen GMP di Atas 9%
PT Gunung Madu Plantations yang menjadi tuan rumah Temu Lapang tahun 2009, menyelenggarakannya dengan penuh totalitas mulai dari penerimaan tamu, pelayanan di hotel dan persiapan keberangkatan dari hotel ke lokasi Temu Lapang. Perjalanan konvoi bus para peserta dari hotel di Bandar Lampung ke lokasi di Site GMP berjalan mulus.
“Perjalanan dari Bandar Lampung ke Site GMP sangat lancar, seperti di jalan tol saja,” komentar seorang peserta dari Makassar. Dia mengaku salut dengan pimpinan GMP yang bisa menjalin hubungan begitu baik dengan kepolisian sehingga mendapat dukungan penuh di sepanjang perjalanan. Para peserta tak dapat menyembunyikan kekagumannya.
Tepat pukul 09.00 rombongan peserta sekitar 350 orang tiba di LSTC. Di sini rombongan langsung dibagi menjadi dua. Rombongan pertama terdiri dari penumpang bus no.7, 8, dan 9, diarahkan mengunjungi pabrik. Selebihnya dalam jumlah lebih besar (delapan bus plus mobil kecil) melakukan Temu Lapang di areal dan menyaksikan fasilitas Riset dan demo alsintan milik PT. Gunung Madu Plantations.
Temu Lapang Ikagi yang dilaksanakan di PT Gunung Madu Plantation 25 Juli itu sukses digelar. Itu terlihat dengan antusias para peserta yang mengikuti temu lapang di salah satu pabrik gula kebanggaan masyarakat Lampung ini.
Sedikitnya, 350 peserta utusan dari perusahaan gula yang ada di seluruh Indonesia tersebut, mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB, sangat konsen mengikuti tahapan-tahapan temu lapang yang langsung dilaksanakan di areal perkebunan dan pabrik tebu GMP.
Peserta pertama kali diajak di Bangsal Foto Periode. Di sana dijelaskan tentang bagaimana cara tim peneliti GMP melakukan pembungaan pada tanaman tebu, pengaturan suhu yang dilengkapi 4 bilik ruangan berlampu. Lalu juga dijelaskan tentang persemaian bibit tebu, dan kloning bibit unggulan rakitan GMP.
|
Kunjungan ke bangsal foto periode
Staf RND GMP sedang melayani pertanyaan dari seorang peserta |
Selang 30 menit di lokasi penelitian, rombongan lalu melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus pariwisata menuju demo pesawat, tanah, irigasi dan pemeliharaan tanah.
Dalam perjalanan tersebut, Ngadiman, pendamping dari GMP juga menerangkan bahwa GMP dibangun mulai tahun 1975 yakni dengan membuka hutan sekunder dan padang alang-alang. Saat ini, luas lahan tanam GMP yakni 25 ribu hektar (ha) dan 3 ribu ha lahan kemitraan.
Tiba di lokasi kedua, peserta Temu Lapang Ikagi disuguhkan demo pesawat pillatus yang melakukan penyemprotan ZPK pada tanaman tebu. Di sana, General Manager GMP Jimmy Mahshun juga berkesempatan hadir dan berbincang dengan para peserta. Di lokasi tersebut, peserta diajak melihat cara menanam tebu, irigasi dan demo menggunakan mesin pompa air yang dimiliki GMP jika menghadapi musim kemarau. Sumber air di PT GMP berasal dari lebung atau kolam buatan yang ada di sekitar areal tanaman tebu. Departemen Plantations juga mendemonstrasikan alat-alat berat yang digunakan untuk membajak tanah, pengolahan lahan pra-tanam dan pasca-tanam, maupun pendalaman lebung.
“Semuanya serba terukur dan tertib. Ya memper (wajar), kalau rendemen Gunung Madu di atas 9,” ujar peserta dari PG Trangkil.
Selanjutnya, peserta bergerak menuju lokasi pembuatan kompos BBA (bagas, blotong dan abu) hasil limbah pabrik tebu yang dikembalikan ke areal lahan sebagai penyubur tanah dan tanaman. Komposisinya yakni 5:3:1 dari masing-masing bahan tersebut.
Kemudian, peserta juga diajak untuk melihat pola tebang tebu yang selama ini dilaksanakan di GMP. Mulai dari tebang ikat, tebang tumpuk urai dan tebang menggunakan mesin.
|
Peserta melihat aktivitas pemanenan dan pengangkutan tebu
|
Kunjungan tersebut berakhir di GSG (gedung serba guna) milik GMP yang baru selesai dibangun. Di sini para peserta Temu Lapang mendapat suguhan makan siang dilengkapi berbagai makanan ringan seperti pempek palembang, tekwan, bakso, dan rujak. Dan, yang membuat suasana menjadi tambah meriah adalah adanya stan-stan pameran dari berbagai perusahaan. Mereka menyediakan bingkisan bagi para pengunjung yang mengisi buku tamu.

GSG Gunung Madu tempat diskusi dilaksanakan

Butuh oleh-oleh buat dibawa pulang ?... kami siap !
Setelah malam harinya (24/7) mengikuti acara welcome party di Graha Parahita, keesokannya peserta Temu Lapang Ikagi 2009 melanjutkan kegiatannya
ke Site Gunung Madu. Rombongan tiba di LSTC sekitar pukul 09.00. Mereka dibagi dua: yang mengun-jungi kebun dan pabrik.
Rombongan yang akan melihat aktivitas pabrik langsung memasuki ruang pertemuan LSTC. Mereka diterima oleh Kadep Factory Alex Kesaulya, Kadiv Engineering
Services H. Yuli Astono ST., Kadiv Mill Boiler Ir. H. Desmal Zainuddin, Pjs. Kadiv Processing Ir. H. Wahono beserta staf dan jajarannya.
Dalam sambutannya Pak Alex berharap Temu Lapang Ikagi menjadi ajang silaturahmi dan membuka wawasan insan pergulaan untuk meningkatkan produksi gula.
“Mari berbagi pengalaman dan pemikiran dalam masalah perkebunan, pengelolaan hingga pengolahan gula,” ujarnya.
Sementara Pak Yul menjelaskan tentang penanganan pabrik gula mulai dari pemeliharaaan hingga inovasi-inovasi yang telah dilakukan oleh Departemen
Factory.
Pertemuan berlangsung sekitar 30 menit.

Rombongan peserta tiba di Pabrik

Melihat butiran gula lewat mikroskop



Pesawat pilatus sedang mendemonstrasikan penyemprotan ZPK
Tiba di halaman pabrik rombongan diterima staf dan karyawan Factory. Bahkan Pak Jimmy, Pak Guna dan Pak Koko Widyatmoko juga ikut menyambut mereka.
Rombongan dari berbagai perusahaan gula tersebut dipecah menjadi 10 regu. Ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam kunjungan dari Cane Yard hingga Packing dan Laboratorium.
Usai dari pabrik rombongan keliling IPAL dan penebangan loose cane (tebu urai). Setelah itu menuju GSG untuk acara diskusi dengan nara sumber Pak Koko, Pak Guna, Pak Tarto dan Pak Alex dengan moderator Wakil Sekjen Ikagi Ir. Adig Suwandi.
Di akhir acara, Pak Adig Suwandi mengatakan produksi gula nasional saat ini baru mencapai 2,7—2,8 juta ton. Sedang kebutuhan baik untuk rumah tangga maupun industri mencapai 4,3 juta ton. Untuk memenuhi kuota tersebut pemerintah mengimpor gula. “Di masa mendatang untuk memenuhi gula nasional tidak melakukan impor lagi, tapi mengandalkan sumbangan dari pabrik gula di luar Jawa, khususnya Lampung yang telah mampu menyumbang 35—40 persen produk gula nasional,” kata Pak Adig.
Dengan adanya kunjungan ke GMP, semua PG di Indonesia bisa belajar bagaimana GMP mengelola kebun dan pabrik secara efisien. “Kalau semua PG seperti GMP, maka masalah gula nasional selesai, bahkan Indonesia menjadi negara pengekspor gula,” tegasnya.
Sementara Wakil Ketua Umum Ikagi Adi Prasongko menambahkan, setelah belajar di PT GMP, petani dan pengelola pabrik gula dapat melihat efisiensi yang terjadi di pabrik gula tersebut. “Gunung Madu mampu memadukan praktik budidaya tebu yang baik, begitu juga di sektor pabrik.
Sebelum meninggalkan GSG Pak Adi Prasongko menyimpulan untuk keberhasilan produksi gula harus mempunyai komitmen dan disiplin tinggi sehingga dapat mendorong perusahaan mampu menghasilkan tebu dengan rendemen tinggi. “Sebagai produsen gula, kalau mau berhasil harus belajar dari Gunung Madu,” ujarnya.

Seorang peserta sedang bertanya pada narasumber dalam diskusi di GSG
Pelaksanaan Temu Lapang Ikagi sukses, tentu berkat kerja keras panitia khususnya dari Gunung Madu. Sebelum acara tersebut digelar panitia harus pontang-panting mempersiapkan. “Bahkan sebulan sebelumnya kita disibukkan dengan urusan booklet, tas, kaos, spanduk dan lain-lain,” ujar koordinator wilayah Bandarlampung, Ir. H. Dwi Witrianto.
Bahkan pada hari kedua panitia harus bangun lebih awal karena urusan penjemputan dari hotel-hotel tempat menginap. Tak hanya di Bandarlampung, kesibukan juga terlihat di LSTC dan tempat-tempat yang akan disinggahi.
“Mungkin karena kita sudah berpengalaman mengikuti kegiatan seperti ini ya. Jadi bisa mengatur waktu sehingga tak ada masalah di lapangan,” tambah Pak Wiwit.
Para petugas pun tak lagi mengalami kesulitan. Di Factory misalnya, walaupun dibagi beberapa regu, tapi mereka mempunyai kesempatan yang sama baik untuk melihat pabrik atau sekadar menanyakan hal-hal yang menyangkut teknis.
Untuk meramaikan suasana di GSG disediakan panggung hiburan, bahkan beberapa suplyer mendirikan stan untuk memamerkan produknya.
Tepat pukul 17.00 diskusi selesai. Mereka pun dilepas dengan lambaian tangan jajaran pimpinan dan staf GMP. Sampai jumpa di temu lapang tahun depan...

Selamat jalan ....Sampai jumpa lagi ..



